intelectual property.

you are welcome to look, read, study, and learn. you are welcome to link/share it. you are welcome to quote or rewrite some of my post, but please don't forget to mention me/link my site.
but you are not allowed and please don't take any of the picture (with or without watermark) from this site without my permission.
Showing posts with label tips iseng. Show all posts
Showing posts with label tips iseng. Show all posts

Thursday, July 14, 2016

Cerita Mudik trip 2016 : Jogja - Purbalingga - Jogja - Sragen - Jogja

*Salah satu jalur alternatif yang kuambil ketika mudik lebaran kemarin.
Langit biru indah tanpa gangguan kabel-kabel listrik dan papan reklame :D
Mudik tahun ini kami mulai 2 hari sebelum hari raya Idul Fitri. Proses berangkat dari Jogja ke Purbalingga terasa biasa saja karena kami berangkat hampir tengah malam, dan jalanan masih cukup lengang sehingga kami hanya lewat jalur umum yang memang biasa dilewati.

Aku juga tidak sempat jalan-jalan kemanapun, karena suasana sudah keburu ramai di rumah. Di satu-satunya kesempatan jalan-jalan di Purbalingga, aku bisa mendapatkan foto menarik ini. Sayang, saat itu aku hanya membawa ponsel dan bukan kamera DSLR. Jadi kami harus mengekor beberapa waktu di belakang mobil sebelum bisa mengambil foto dengan stabil. :E

*bukan hal biasa buat aku melihat orang menumpang mobil bak terbuka dengan posisi duduk yang seperti ini.
Tenang dan sambil menghadap depan. (biasanya menyamping)
Kesempatan bermain-main dengan kamera DSLRku yang sempat kucueki selama 3 hari, akhirnya datang ketika perjalanan pulang dari Purbalingga ke Jogja di lebaran lebih sehari. Yup, ini saatnya bermain-main dengan GPS dan mencari jalur alternatif yang sesepi mungkin. 

Buat aku, lebih baik perjalanan menjadi lebih lama, dari pada di jalan harus bertemu terlalu banyak kendaraan #beteKaloKetemuTerlaluBanyakOrang.

Perjalanan pulang kali ini, kami memilih jalur terpendek yang ditunjukkan oleh Google Navigation, sekaligus jalur yang paling tidak populer di kalangan pemudik. Yup, karena jalan ini melibatkan menaiki dan menuruni jalan perbukitan yang curam, dengan jurang di kiri atau kanan jalan. Mobil harus dalam keaadan prima jika memutuskan melewati jalan ini. Mobil kami bahkan sempat mogok sekali di tanjakan karena suamiku salah ambil gigi #tegang.

But the views is worth waiting!

*jalan lengang tapi tetap tidak bisa ngebut. Tikungan dan tanjakan/turunan menantimu.
*melewati jajaran hutan pinus. What a view!
Persis setelah kami melewati hutan pinus, kami bisa melihat hamparan air yang luas! Karena kami sampai di waduk Sempor, Kebumen.

Sudah lama sekali sejak terakhir aku mengunjungi sebuah danau atau waduk. Menyenangkan sekali bisa melihat air luas tanpa ombak kencang seperti jika ke pantai. Air yang tenang itu menenangkan hati. ^ ^

Kami beristirahat sejenak sambil selfi beberapa kali disana. #biasalahNamanyaJugaTuris.

*istirahat sejenak di parkiran Waduk Sempor, Kebumen (search aja di google).
Pemandangan waduknya menenangkan!
Menuju pusat kota Kebumen, mau tak mau kami harus melewati jalur mudik yang biasa. Sudah dapat diduga macet parah menanti di perjalanan. Dari pada bosan melihat pantat mobil di depan, aku akhirnya malah berusaha selfi keadaan kursi depan kami. Percobaan berkali-kali membuat batere kameraku hampir habis. #haha. Taruh dulu deh kameranya untuk nanti.

*keadaan kursi depan kami.

Suasana kembali kondusif, ketika kami berhasil menemukan jalur alternatif lain supaya lebih cepat masuk ke jalur Daendels tanpa harus lewat kota. Menyusuri jalur menuju pantai, disambung ke jalan Daendels itu sungguh menyenangkan. Less cars, less stress. 

Sempat kelaparan juga sebelum akhirnya menemukan warung makan yang buka di hari lebaran. Alhamdulillah. :D
*lihat! cakrawala laut selatan terlihat di ujung setiap muara sungai di setiap jembatan yang kami lewati sepanjang jalur Daendels.
*Jalur yang dulu banyak lubang, sekarang halus dan lebar.
* suasana lebaran tak berarti berhenti bekerja.
Semua foto perjalanan ini diambil memakai mode Speed tanpa memelankan laju kendaraan.
Sesampainya di Yogyakarta, sebenarnya kami bisa langsung menuju rumah melalui jalur Wates. Tapi suami memutuskan untuk jalan-jalan dan menghabiskan jalur Daendels hingga jalan Bantul. Di beberapa tempat kami akhirnya mencari jalur alternatif lagi untuk menghindari kemacetan yang parah.

*senja di langit Bantul, DI. Yogyakarta
*matahari terbenam ketika kami sampai ke kota Bantul.
Akhirnya kami sampai di rumah juga dan disambut oleh kucing kami yang jaga rumah selama tiga hari selama kami tinggal ke Purbalingga. Tidur semalam, mudik dilanjut lagi besok.. ke Sragen. Istirahat-istirahat!

Lebaran lebih dua hari. Esoknya selepas Dhuhur, kami berangkat mudik kedua: Jogja menuju Sragen. Memasuki hari kedua setelah lebaran, sudah tak perlu dipertanyakan bagaimana keadaan jalan raya. Warna merah macet dimana-mana! Itulah mengapa ketika kami hampir masuk surakarta, kami memilih jalur klewer, dan untuk selanjutnya main belok sana belok sini demi sebisa mungkin menghindari warna merah di jalur, hingga kami melewati pusat kota.

Kabar baiknya sih, jalan di penjuru kota Solo sudah diaspal dan halus, sehingga kami tidak merasa melewati pedesaan.

Menuju Sragen, sebenarnya kemacetan masih bisa ditolerir. Tapi karena sepertinya asyik jika mencoba sampai ke rumah lewat jalan belakang, maka ketika gambar di Google Maps sepertinya memungkinkan, kami keluarlah dari jalur utama dan berpetualang lagi. #haha.

And, these what we've got!

*Okeee. jalurnya memang besar dan muat mobil. Tapi bentuknya itu lho.. hahaha. Tetap lanjut!
* kamu bisa lihat di ujung jalan, beberapa motor menunggu kami lewat. Karena memang jalurnya kami ambil semua. Haha.
*Astajim, ada traktor diparkir di jalur! Dicari pemiliknya ga ketemu juga.
Deg-degan, kita berusaha lewat. sumpah.. mepeeett banget sama sawah. Kalo tanahnya ga kuat, udah masuk sawah kita.
*permisi numpang lewatt... :D
*ga ada tiang dan kabel listrik. Apalagi papan iklan. :D
*Ini adalah jalan kampung biasa, pemandangan yang tidak bisa didapat jika lewat jalur utama biasa.
Di rumah Sragen sudah tidak begitu ramai karena beberapa kerabat sudah balik ke rumah masing-masing. Ada yang hari liburnya pendek banget.

Kami malah bermain-main dengan anak anjing di rumah, sebelum mereka diadopsikan. XD

*lima anjing dalam satu pelukan! cuteness overload!!
Lebaran lebih tiga hari, kembali menuju Jogja, asyik sekali karena ada kesempatan melewati jalan tol Sragen-Solo yang masih dalam proses pembangunan itu. Lumayan, meskipun belum bisa dipakai ngebut, tapi lengang dan pemandangannya luas. 

*Ini sudah masuk jalan Tol. Serasa lewat jalur alternatif tengah kampung dan sawah.
*penduduk lokal masih bisa lewat dengan leluasa.
Pstt.. spot ini juga jadi favorit untuk jadi tempat foto-foto lho. Mungkin karena tiangnya yang miring tampak menarik.
Mulai keluar dari tol, kami harus putar otak lagi menyiasati warna merah macet, maka kami memutuskan lewat jalur Sukoharjo, supaya keadaan perjalanan menjadi lebih menyenangkan lagi.

*episode kedua, dari selfi keadaan kursi depan
Sebelum sampai Jogja, kami mampir dulu silaturahmi ke rumah sahabat di Klaten. Lumayan meluruskan kaki selama 1-2 jam.

Perjalanan ke Jogja sekali lagi kami siasati dengan berbelok ke kanan sebelum candi prambanan, supaya bisa langsung keluar di Jl. Kaliurang KM 9 (make Google navigation dengan tujuan Tengkleng Gajah. haha). Karena sudah malam, tidak ada foto yang bisa kuambil dan tidak ada pemandangan yang bisa dilihat. Tujuan utama kami hanya supaya bisa segera sampai rumah dan tidurrrrrrrrrr.... *besoknya masih mesti syawalan di kampung dan di jogja. ^ ^; Dan juga siap-siap kerja lagiii.. 

Tips berkendara mudik lebaran lebih bebas stress: 

Gunakan Google Maps-mu semaksimal mungkin. Jangan hanya mengambil jalur yang disarankan. Perhatikan warna jalur yang kamu pilih, warna merah artinya daerah itu macet. Lihat-lihat di sekitar jalur tersebut, apakah ada jalan lain yang bisa diambil yang akan membawamu menghindari jalur berwarna merah tersebut tanpa menyimpang terlalu jauh dari tujuan akhir perjalananmu.

nb: Cara berkendara ini hanya bisa dipakai untuk tim minimal 2 orang (satu menyetir, satu sebagai navigator). Dan tim adalah orang yang tidak masalah jika sampai tujuan lebih lama dari pada lewat jalur utama yang macet. Tim juga harus kompak dan saling mempercayai satu sama lain ya, karena sopir ga bakal sempet cek jalur, jadi navigator yang tanggung jawab pastiin jalurnya nyambung.

It's not about the destination, it's about the journey. ;)



ajeng-sitoresmi.blogspot.com

Saturday, June 25, 2016

DIY: Studio Foto Mini dari Kotak Kardus


Aku tipe yang suka dan sudah terbiasa memotret benda-benda kecil (sebut saja: benang rajut) pake bantuan cahaya matahari langsung sebagai pencahayaan. Tapi akhir-akhir ini susah banget cari waktu yang tepat karena sering banget hujan, atau malah harus pergi sampai malam.

Makanya, kupikir ini saatnya aku mencoba mempraktekkan tutorial-tutorial cara membuat studio foto mini dari kardus yang sudah beberapa kali kutonton dulu. Murah dan mudah dibuat! :D

Bahan dan alat yang disiapkan:
  1. Kardus sesuai ukuran yang dimau. Se-kubus mungkin semakin bagus.
  2. Kertas tipis. (aku memakai kertas roti)
  3. Inkjet paper (karena katanya ini paling pas dipakai sebagai background foto, tapi kamu bisa memakai kertas jenis lain kok.)
  4. Plester bolak-balik
  5. Penggaris
  6. Cutter
  7. Pensil
  8. Dua buah lampu belajar yang memakai lampu LED tipe daylight


How to:
  • Dengan penggaris, pensil, dan cutter, buat lubang segiempat di tiga sisi kardus. Aku menyisakan 1.5 inci (4 cm) dari tepian kardus. 
  • Masih dengan penggaris, pensil, dan cutter, potong segiempat kecil di bagian tengah dari salah satu sisi tutup kardus yang fungsinya untuk lubang intipan ketika memotret.
  • Potong kertas roti sesuai ukuran tiga sisi kardus yang sudah dilubangi.
  • Tempelkan dari sisi dalam kardus memakai plester bolak balik, kertas roti yang sudah kamu potong.
  • Plester mati bagian tutup kardus yang tidak dipotong (yang tidak ada lubang intipannya).
  • Sekarang sisi kardus yang tidak dipotong akan menjadi dasaran dari studio foto minimu, dan bagian tutup kardus yang diplester mati menjadi bagian belakang dari studio foto minimu.
  • susun inkjet paper menjadi sebuah lembaran besar dan tempel di bagian belakang studio foto minimu.
  • Dan jadi deh. Jika sedang memakainya, gunakan lampu belajarnya di sisi kiri dan kanan kardus, dan gunakan lubang intipan untuk meletakkan kamera (bisa dalam posisi ditutup ataupun dibuka) .

Kamera yang dipakai tak harus DSLR seperti foto diatas. Kamu juga bisa memakai kamera saku atau smartphonemu dengan bantuan tripod kecil untuk menjaga supaya gambar tidak goyang.

Dengan ini, meskipun tengah malampun, asal sedang tidak mati listrik, jadi bisa foto produk kapan saja deh.. :D

Contoh hasil foto memakai bantuan studio foto mini ini:

  

Peringatan: Jauhkan dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan, atau studio foto minimu tidak akan berumur panjang. :p

Ini adalah salah satu video youtube yang kupakai untuk referensi:




@ajeng_poyeng
ajeng-sitoresmi.blogspot.com

Wednesday, March 11, 2015

Jurnal harian : Kalau aku tidak bisa tidur

[sumber]
Kadang kalau sudah diatas jam 12 malam dan aku belum juga ngantuk, tapi aku sudah ingin bisa segera tidur, beberapa hal ini adalah cara yang kulakukan supaya kantuk datang, tanpa melibatkan bangun dari kasur untuk mencari susu hangat : (*sebagian gambar didapat dari google image dengan menyertakan sumber)

1. Ngerajut (Knitting)

[sumber]
Ngerjain hobi memang bisa bikin kita melek terus dan lupa tidur, termasuk juga ngerajut (yang juga adalah hobi utamaku). Tapi sebaliknya, ngerajut juga bisa bikin kamu ngantuk lho.. terutama kalau kamu ngerajut tusukan yang sama terus (seperti Knit) pas ngerjain rajutan besar. Jadi, siapkan satu proyek besar suka-suka bertusuk pengulangan yang membosankan yang akan kamu pegang hanya kalau kamu pengen ngantuk. 

2. Main CrossMe Color


Puzzle game satu ini adalah mainan favoritku di hape (dan juga satu-satunya game yang aku rela bayar buat dapat versi unlimitednya). Dia masang-masangin warna ke tempatnya dengan hanya petunjuk angka, dengan hasil akhir sebuah bentuk lukisan puzzle. Game ini bisa membunuh kebosanan dengan efektif tanpa harus main kejar-kejaran atau cepet-cepetan dan bisa bikin kamu lupa waktu.
Entah kenapa kalau aku mainan ini sambil tiduran di kasur, selalu hanya lolos sampai satu puzzle. Habis itu.. ngantuk!

3. Dengerin Relax Melodies

[sumber]
Aplikasi suara yang satu ini memang diciptakan untuk mengantarkanmu tidur pulas. Lebih efektif daripada tidur sambil dengerin playlist lagu dari headset. Kamu bisa memilih sendiri suara-suara apa yang membuatmu tenang tidur. Aku sendiri menyukai tidur diiringi suara hujan dan jangkrik.. kalau sedang musim kemarau aku akan menghidupkan aplikasi ini jika kangen tidur diiringi suara hujan. Aplikasi ini terutama akan sangat berguna jika kamu sedang travelling dan kangen dengan suasana suara di sekitar kamar tidurmu di rumah. Selain di android phone, juga sudah ada di windows phone juga!

4. Minta dipijetin
[sumber]
Yang ini sih hanya bisa dilakukan jika kamu punya teman sekamar, dan si teman sekamar juga belum tidur duluan dan lagi engga capek sendiri (atau mungkin kamu bisa memanfaatkan kucingmu?). Dipijetin (bukan pijat refleksi lho) selalu efektif bikin kita bisa tidur, dijamin besoknya kamu akan bangun dan lupa kapan kamu ketiduran karena dipijitin. Tapi kemewahan yang satu ini memang jarang bisa didapatkan sih, jadi kalau ada kesempatan, ambil saja. :p


Yang jelas, sebisa mungkin harus bisa tidur dalam keadaan rileks. Soalnya kalau tidak, bisa mendadak kena mimpi ketemu yang 'engga-engga'. >_<

semoga kamu tidur nyenyak tanpa mimpi buruk
[sumber]

ajeng-sitoresmi.blogspot.com

Thursday, September 11, 2014

Tips : Memulai Bisnis dari Hobi


Sedari mau lulus kuliah, aku tidak pernah bekerja kantoran dan langsung memutuskan berwirausaha, dan hal itupun bukan karena dorongan orangtua.

Mengambil usaha yang bukan melihat tren yang sedang berkembang, dan bukan pula usaha yang berkutat di makanan, aku dengan menyadari segala hambatan yang mungkin ada, memilih usaha yang berbasis dari hobi, yang kebetulan juga masuk ke kerajinan tangan. Jenis usaha yang oleh sebagian orang sering dijadikan dan dianggap usaha sampingan semata yang bisa saja dihentikan sewaktu-waktu oleh pelakunya. Dan meskipun bukan usaha yang tampak mewah, tapi apa yang kumulai dulu masih terus bertahan (dan tentunya tetap berusaha berkembang) sampai sekarang, dan berhasil mempertahankan tetap bisa makan teratur.

Jadi inilah beberapa hal dasar yang kupegang dan lakukan ketika awal melakukan usaha bisnis berbasis hobi dan masih kupegang sampai sekarang. (tulisan ini berdasar dari ingatanku, dan mungkin sedikit banyak aku 'kumpulkan' tanpa sadar dari membaca buku kuliah atau buku lain sewaktu masih sekolah)

1. Niat.
Niat menentukan segalanya. Kalau kamu berniat hanya menjadikan bisnis ini usaha sampingan, maka itulah yang akan kamu dapatkan. Manusia memang cenderung memilih pemikiran yang mudah, tapi jangan takut untuk meniatkan usaha berbasis hobi sebagai usaha utama dan melakukannya full-time tanpa nyambi bekerja di tempat lain meskipun tampaknya hambatan yang terpikir berat, karena justru pikiran yang terbagi (contohnya karena bekerja di tempat lain) akan menghambat usaha bisnis hobimu berkembang lebih cepat.


2. Rencana.
Jangan hanya berpikir untuk sembarangan melakukan usaha bisnismu dan berharap akan menyempurnakan hal dasar-nya sembari jalan. Sama seperti halnya bisnis jenis lain, pikirkan hal dasarnya dari awal, seperti logo, deskripsi usaha, tempat usaha baik online atau offline, media sosial yang diambil untuk mendukung usaha, kontak yang bisa dihubungi, visi dan misi, dan kalau lagi rajin dan banyak waktu bikin juga rencana bisnis.

3. Pisahkan bisnis dan pribadi.
Hindarkan memakai kontak yang sama untuk bisnis dan pribadi. Baik itu nomor telepon, email, dan (kalau bisa) alamat usaha. Karena begitu mulai berbisnis privasimu akan banyak terganggu, dan pastinya kamu tidak ingin susah memisahkan siapa sebenarnya yang sedang berusaha meneleponmu, pelanggan atau keluargamu kan? Dan jangan lupa pisahkan pula kotak uang pribadi dan usaha, karena bisnismu ga akan bisa berkembang kalau kamu tanpa sengaja menghabiskan labanya untuk keperluan pribadi karena tabungannya jadi satu.


4. Tetap idealis.
Bisnis berdasarkan hobi pada umumnya memiliki idealisme dari pembuatnya. Seiring perjalanan waktu akan banyak godaan berusaha menarikmu dari idealismemu dan bahkan mengaburkan etika dalam berbisnis secara umum. Sebenarnya hal ini 100% hakmu untuk mengambil jalan yang mana. Tapi bisnis berdasarkan hobi biasanya adalah sesuatu yang unik dan memiliki "jiwa" yang manis. Jadi pikirkan baik-baik sebelum mengambil suatu keputusan sehubungan dengan pengembangan usahamu.

5. Tetap sabar dan beretika.
Etika bisnis sebenarnya sama saja dengan etika berhubungan antar sesama manusia. Pada umumnya bisnis berdasarkan hobi melibatkan hubungan antarpersonal yang lebih intim dari jenis bisnis lainnya.
Jangan pernah kehilangan keramahan dalam menghadapi pelanggan, karena jika menempatkan diri di sepatu pembeli, mereka juga pasti ingin nyaman melakukan jual beli denganmu. Etika juga berlaku untuk hubungan sesama penjual, dan juga hubungan ketika kamu di posisi sebagai pembeli. Tapi sebagai penjualpun kita juga berhak untuk menolak pembeli yang tidak sopan.
Adalah kewajiban kita untuk tetap beretika. Sabar tapi tetap tegas, kenali karakter pembelimu untuk menentukan sikap tepat menghadapinya, dan tetap berusaha mengajarkan sikap saling menghormati antara pembeli dan penjual dengan cara yang baik dan profesional, karena kadang mereka tidak tahu bahwa hal yang mereka lakukan sebenarnya tidak benar secara bisnis (misal: karena ini pengalaman pertama mereka, atau karena kebetulan dia adalah teman mainmu).
Sebaliknya juga sebagai penjual kita juga harus paham untuk menjaga apa yang terjadi antara kamu dan pembeli adalah hanya diantara kalian, dan kamupun tidak berhak menjelek-jelekkan mereka di media sosial jika mereka kebetulan melakukan kesalahan/membuatmu kesal. Karena seperti pedang bermata dua, selain mungkin mendapatkan simpati, hal ini diam-diam bisa malah menurunkan kredibilitasmu sebagai penjual karena kamu dianggap tidak bisa memisahkan emosi pribadi dari profesionalisme bisnis.


6. Jangan berhenti belajar.
Karena ini bisnis berdasarkan hobimu, level dari kemampuanmu secara langsung akan mempengaruhi reputasi bisnismu. Jadi jangan pernah berhenti berusaha meningkatkan ilmu sehubungan dengan hobi yang kamu pakai sebagai dasar bisnis.

7. Ambil kesempatan secara bertanggung jawab.
Tiap usaha punya strategi pemasaran yang berbeda. Akan banyak kesempatan yang bisa kamu ambil di depanmu nantinya sehubungan bisnismu, ikuti yang menurutmu sesuai dengan caramu dan jangan sungkan untuk tidak mengambil suatu kesempatan jika menurutmu hal itu tidak sesuai dengan caramu. Hal ini contohnya sehubungan dengan keanggotaan grup atau lembaga, pemodalan, bazaar, endorse, dan lain sebagainya.

* * *
Semoga hal singkat (yang separuh curhat) di atas, bisa sedikit memberi inspirasi bagi siapapun yang sedang kepikiran ingin menjadikan hobi sebagai bisnis yang serius.
Jangan sungkan menambahkan di bagian komentar posting ini jika kamu merasa ada hal yang harusnya dipikirkan juga ketika mengawali bisnis berbasis hobi, tapi belum tertulis diatas.



Salam,

@ajeng_poyeng


Thursday, August 14, 2014

Liku-liku ngontrak : Kebanjiran

Aku tinggal di daerah diantara jalan Palagan dan Jombor Sleman. Siapa yang menduga bahwa tinggal di daerah yang cukup tinggi dari permukaan laut ternyata bisa kebanjiran juga? Nyatanya aku untuk pertama kalinya dalam hidup merasakan rumah kemasukan air dan tergenang banjir di semua permukaan lantai (kecuali kamar mandi).

Diawali oleh sore hujan lebat, yang waktu itu kupikir biasa saja. Aku yang waktu itu sendirian di rumah ya santai saja karena aku pada dasarnya suka suara hujan. Tapi sedang asyik-asyik main laptop, aku seperti mendengar tetangga sebelah ngobrol seperti terburu-buru, dan mendengar suara furnitur digeser-geser. Insting saja, aku lalu mengintip keluar jendela, dan mendapati air menggenang di jalan sudah tinggi dan hampir melewati teras rumah!


Langsung saja adrenalinku naik, dan aku membiarkan badanku bergerak sendiri. Karena aku ngga tahu bakal seberapa tinggi banjir yang mungkin terjadi (kebanyakan lihat berita banjir di Jakarta soalnya), aku mengangkat semua barang elektronik dan kelistrikan ke tempat paling tinggi. Lalu semua karpet dan bantal-bantal yang ada di lantai (yup, memang rumahku ala kontrakan anak kos yang tidak ada furnitur dan semuanya serba ngesot) kuangkat ke atas kasur tempat tidur. buku-buku dan kotak laundrypun juga kunaikkan ke atas kursi, dan terakhir aku berlari ke 'gudang' dan berusaha sebisa mungkin menyingkirkan kardus tempat aku menyimpan barang dari atas lantai pindah ke atas kursi dan meja yang ada. Ketika tampaknya sudah tidak ada lagi yang bisa disingkirkan dari lantai (aku sudah pasrah dengan rak buku dan kulkas), aku lalu mencari kain lap (dan baju juga) untuk menyumpal bagian bawah pintu supaya air tidak lagi masuk semakin banyak ke rumah.

*yang berkilau itu bukan karena lantainya kinclong,
tapi karena ada air menggenang!

Lalu aku menelepon suami yang saat itu sedang ada di toko supaya pulang dan menyelesaikan masalah banjir itu di bagian hulunya (apapunlah yang jadi penyebab, harus segera dibereskan) sebelum banjirnya makin tinggi.

Dan akhirnya banjir hanya menggenang setinggi 3 cm di dalam rumah (di luar rumah sepertinya 15cm-an tingginya), dan segera menyusut setelah selokan dibuka lebih lebar lagi.. Biasalah masalah perumahan yang bersebelahan, sering kali tidak ada kesepakatan soal saluran pembuangan.

Selesai banjir, kami langsung kerja bakti mengepel rumah, dan besoknya membeli semen dan membangun tanggul di depan pintu, karena kebetulan sebentar lagi kami mesti mudik lebaran.

Fyuuuhhh.... aku lolos ujian banjir pertamaku (ngga mau lagi yang lain ah), dengan barang basah yang minimum, sekaligus jadi terpaksa ngepel satu rumah.

Kejadian ini sampai bikin aku lupa makan sehabis buka puasa. Hilang sudah laparnya gara-gara heboh ngurusin rumah kemasukan air.

* * *
Jadi, dari pengalaman ini, kita ngga bakal tahu apakah rumah yang kita kontrak akan aman dari banjir atau tidak meskipun kamu memilih dataran yang tinggi. Karena semua hal bisa terjadi karena alasan yang kamu ngga tahu.


Dan meskipun kemungkinannya sangat kecil, mempersiapkan lebih baik daripada kamu mesti kerja otot mengangkat banyak barang ketika hal itu benar-benar terjadi (capek tahu).
  • Hindarkan menyimpan barang di dalam kardus, karena kardus sangat mudah menyerap air dan langsung rusak begitu terendam air. Investasikan untuk membeli kontainer dan menyimpan barang-barang berhargamu di dalamnya, barulah setelahnya menyimpannya di gudang. Lagipula kontainer meskipun sedikit mahal, lebih cantik dilihat, tahan lama, bebas lembab, dan bisa dipakai untuk banyak keperluan. Kelemahan lain dari menyimpan barang di kardus adalah, dia tidak anti rayap. Aku kehilangan 2 kardus seisinya karena dimakan rayap semua, sebagian kecil di dalamnya selamat karena ada di dalam map plastik.
  • Sebisa mungkin, pilihlah furnitur yang memiliki kaki, termasuk rak buku, supaya kalaupun ada air menggenang tidak membuat furniturmu terendam banyak. (bagian bawah rak bukuku belum kupakai lagi sampai sekarang karena dia masih lembab dan seperti berjamur, dan aku tak bisa menjemurnya karena dia besarrr). Pun jadi mudah kalau mau menyapu bagian bawahnya.
  • belikan kulkasmu alas kulkas yang ada rodanya itu, supaya selain jadi lebih mudah digeser, juga menambah tinggi kulkasmu dari lantai.
  • Hindarkan menaruh stop kontak atau kabel di lantai. Selain bebas kena air, juga jadi kelihatan lebih rapi dan bersih.
  • Buatlah tanggul untuk menahan air masuk dari bawah pintu, atau persiapkan sesuatu yang bisa kamu pakai sewaktu-waktu untuk fungsi yang sama. Lumayan kan jika bisa mengurangi debit air masuk ke rumah = mengurangi beban bersih-bersih.


@ajeng_poyeng

Friday, November 1, 2013

Tips Iseng : Fotografi Produk ala Ajeng~Poyeng

Dulu pas kuliah memang sempet dapat kelas yang membuat lumayan lah tahu sedikit dasar tentang fotografi. Cuman bedanya, kalau pas kuliah ada kesempatan untuk praktek pakai kamera SLR hasil minjem maksa selama satu semester, pada kehidupan sehari-hari ternyata aku harus melewati masa pake kamera hape biasa-pindah ke kamera pocket hasil nyomot dari rumah ortu (yang sekarang 500 ribu juga dah dapet yang bagus banget)-pindah ke kamera smartphone yang bisa makro-baru deh beneran bisa praktek dengan SLR punya sendiri (yang sekarang sudah ada huruf "D" di depannya)

Hasil foto memang keliatan banget njomplangnya jika dibandingin antara dulu pertama pake kamera hape dengan sekarang yang pake kamera DSLR, terutama di segi kualitas foto. Tapi kebaikan dari praktik selama bertahun-tahun itu kita jadi terus belajar dan jadi lebih baik meski via otodidak macam aku.

awal-awal dulu pertama masih pake kamera hape biasa Nokia 3360
-musti banyak edit main warna-
sekarang dengan DSLR Canon Eos (masih belajar)
-ga usah diapa2in lagi!-
Foto Poyeng selalu adalah mengenai foto produk. Aku lumayan percaya diri dengan cara mataku menilai sesuatu itu bagus dalam konteks 'jika menjadi foto', jadi aku akan berusaha supaya foto yang kuambil paling mendekati atau lebih baik dibanding dengan yang saat itu dilihat dengan mata sesungguhnya.

Beberapa pedoman pribadi yang selalu kupakai kalau mau foto produk adalah...

No Flash Light!
Aku sangat ngga suka pake lampu flash untuk photo produk, semua warnanya selalu jadi berantakan! Dan tentunya jadi lebih jelek daripada jika sedang dilihat langsung. Untuk kamera DSLR, memang dengan sedikit pencahayaan dan memanfaatkan menu kreatif di kamera, tanpa flash pun kamu masih bisa mendapatkan kualitas foto yang bagus, tapi bagaimana kalau kamu tidak punya lampu yang memadai, dan hanya memegang kamera pocket atau kamera hape?

Jangan biarkan foto dengan pencahayaan buruk yang justru makin membuat produkmu tampak jelek jadi satu-satunya dokumentasi produkmu. Itulah mengapa, memakai kamera apapun, aku selalu mengambil foto dengan cahaya matahari sebagai sumber pencahayaan (kecuali kalau kepepet banget harus foto malam hari. Harus diakalin gimana caranya). Tentu saja tidak menaruh produknya dibawah terik langsung, tapi mengambil foto di tempat teduh tepat di samping sumber cahaya. Biasanya aku foto-foto di depan pintu atau jendela.

Close Up dan Makro.
Photo produk selalu tentang close up. Karena hal itu akan menonjolkan detil produkmu dan mengisolasi pusat perhatian foto langsung ke produk yang kamu foto. Itulah mengapa jangan sampai kamu puas dengan foto yang blur -kalo perlu hapus saja- dan bikin lagi sampai dapat yang jelas.

Untuk kamera pocket, pilih menu makro (gambar bunga itu lho), tapi tetap perhatikan jarak maksimal kedekatan benda dengan kamera, karena jika terlalu dekat pasti selalu gagal fokus. Lebih baik ambil foto dengan fokus baik meski jarak agak jauh, nanti masih bisa di-crop kok ;)

dengan kamera pocket
Untuk kamera hape, ada baiknya jika kamu memang meniatkan kamera hapemu sebagai media untuk foto produk, pilih hape yang kameranya memiliki kualitas gambar setidaknya 3MP dan mempunyai fungsi makro di kameranya. Dan jangan lupa membandingkan hape dengan kualitas kamera sejenis sebelum membeli (gsmarena.com bisa dijadikan salah satu referensi bagus untuk membandingkan kualitas smartphone). Selain itu, aturannya sih sama saja dengan cara foto dengan kamera pocket. Sejak aku memegang smartphoneku sekarang (Samsung tua Galaxy Ace Plus yang meskipun masih gingerbread, tapi dia memiliki kamera 5MP dengan makro yang bagus, dan dengan bantuan aplikasi kesayangan camera360) aku bisa dibilang mempensiunkan kamera pocketku. *katching!!

dengan kamera dari smartphone dengan makro bagus
Untuk kamera DSLR sih ngga usah diobrolin lagi ya, karena aku menganggap kalau mampu pegang kamera jenis ini, setidaknya ngga perlu lagi diajarin caranya nyari makro dan close-up.

Pilih Background yang tepat.
Seiring pengalaman, aku menemukan bahwa semakin simple background akan semakin menonjolkan foto produkmu.
Jika warna adalah elemen utama foto produk Poyeng saat itu -seperti memfoto benang misalnya-, maka aku akan memakai background plain polos dan sebisa mungkin mendekati warna putih. Dan pastikan bahwa foto yang kamu upload nanti paling mendekati warna asli dari produk yang kamu foto.


Tapi jika warna bukan hal yang paling ingin ditonjolkan -seperti foto rajutan dengan model-, background apa saja tidak masalah, bahkan kadang cuek saja main efek foto seperti retro atau lomo style, yang penting produknya tetap terlihat jelas detilnya dan menjadi fokus utama foto.


Komposisi
Jangan lupa memperhatikan mau ditaruh mana letak produkmu dalam selembar foto persegi panjang itu. Apakah mau ditaruh tepat di tengah, atau di salah satu sudut foto dengan membiarkan bagian lainnya kosong (sekali lagi supaya pusat perhatian tetap pada produkmu). Pakai saja feelingmu mana yang menurutmu sreg saat itu.


Watermark!!
Yang satu ini jangan lupa kamu tambahkan ke foto produkmu sebelum kamu upload ke website atau media sosialmu. Karena begitu kamu memutuskan upload sesuatu ke internet, kamu harus sadar dan menerima bahwa fotomu bisa diakses siapa saja dan bahkan bisa dikopi siapapun. Meskipun ngga selalu yang mengambil fotomu berniat buruk, kadang ada yang hanya ingin menyimpannya sebagai referensi. Tapi dengan adanya watermark, siapapun yang melihat fotomu nanti akan tahu bahwa kamu yang membuatnya dan tahu namamu jika ingin menghubungimu.
Tapi... pastikan juga penempatan watermarkmu meskipun menjadi semacam signature fotomu, tidak terlalu merusak keindahan fotomu untuk dilihat. Siapa tahu seseorang yang menyimpannya berniat menjadikannya wallpaper di desktopnya. ;)


Resize.
Sebelum diupload, jangan lupa meresize fotomu menjadi sekitar 100-200kb saja dengan dimensi sekitar 900x600 supaya fotomu tetap jelas. Biasanya untuk mencapai ukuran itu aku menurunkan kualitas fotonya menjadi sekitar 60-80%.

* * *

Jadi, tanpa perlu menunggu punya studio apalagi lampu pencahayaan yang keren itu, kita bisa bikin foto produk yang cukup oke dengan memakai apa yang ada di sekitar kita saat ini. .
Yang kubutuhkan saat akan foto produk hanyalah : sebuah kamera, spunbound atau kain putih untuk background yang kugelar di pintu rumah yang kubuka lebar, sinar matahari di jam-jam sebelum atau sesudah jam 12 siang, lalu produknya sendiri tentunya.

Setelah itu foto akan kuedit minimalis (resize, crop, dan kutambahin watermark) di Adobe Photoshop 7.0 (yap masih pake yang jadul) atau jika sedang ga bisa akses PC aku memakai aplikasi Photo Editor di hape yang bisa didapat gratis di android market.

Dan sudah deh..
Foto yang dihasilkan ngga jelek-jelek amat kan? :p


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...